Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penelitian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Benarkah Polusi CFC Bisa Lacak Alien?

Polusi jika di dunia/dimensi /galaxy lain mungkin sidik jari kehidupan canggih. Ada pernyataan baru dari NASA yang menyatakan polusi atmosfer alat ukur yang baik untuk menemukan peradaban alien. Dua jenis chlorofluorocarbons (CFC), gas berbasis karbon kompleks yang digunakan dalam pelarut dan aerosol.

Bagaimana bisa?NASA James Webb Space Telescope (JWST) dapat melihat cahaya yang disaring melalui atmosfer planet seukuran Bumi dan mencari tanda-tanda kehidupan. Kebanyakan rencana misi diusulkan untuk berburu gas seperti oksigen sebagai sumber kehidupan.

Tapi metode tersebut hanya mungkin mengisyaratkan kehidupan sederhana seperti tanaman dan mikroba. Sebuah tim berpikir menemukan peradaban yang lebih maju dengan melihat polusi industri bahwa JWST harus dapat melihat 2 jenis chlorofluorocarbons (CFC).

"Produksi mereka membutuhkan jaringan reaksi kimia yang hanya diproduksi secara buatan di Bumi," kata Avi Loeb, astronom Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. Loeb menghitung JWST hanya butuh beberapa hari pengamatan untuk deteksi tingkat tinggi CFC di planet mirip Bumi pengorbit bintang kerdil putih. JWST hanya mampu menyaring tanda-tanda CFC dari atmosfer yang sangat tercemar, tetapi masih dalam tingkat tolerir manusia.

"Alien/mahluk dari luar bumi ini sering disebut makhluk hijau kecil, tapi hijau juga berarti ramah lingkungan. Definisi terakhir menyiratkan peradaban kaya CFC tidak akan hijau," kata Loeb. Apakah alien mencemari planet mereka? Mari kita berharap mereka lakukannya, karena hal ini akan memberi kita jalan yang menjanjikan bercak terdeteksi teleskop inframerah untuk melacak di mana mereka tinggal.

Frekuensi radio mungkin terlalu pendek untuk membantu menemukan alien. Selama abad ke-20, antena transmisi masih memudar di ruang angkasa. Aliens akan mencari tanda-tanda kehidupan cerdas di Bumi, mungkin harus mencari di tempat lain. "Diamati dari jarak antar bintang, mereka akan mengungkapkan kepada manusia di Bumi atas kehadiran teknologi," kata sebuah tim astronom yang dipimpin oleh Jean Schneider dari Paris Observatory di Meudon, Perancis, dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di jurnal Astrobiology, mereka menyarankan kita harus mencari cahaya yang sama di planet asing.

Namun, ini tidak akan mudah. Bahkan jika semua listrik yang manusia hasilkan digunakan untuk memancarkan cahaya, akan tetap menjadi ribuan kali lebih redup daripada cahaya matahari yang dipantulkan dari permukaan bumi. Schneider menghitung bahwa untuk dapat diandalkan bahkan mendeteksi jumlah besar-besaran cahaya buatan di sebuah planet yang mengorbit bintang yang relatif dekat yaitu 15 tahun cahaya akan membutuhkan sebuah transmisi gabungan teleskop dengan mengumpulkan wilayah cahaya sebesar 1,5 kilometer persegi.

Manusia di Bumi juga meninggalkan jejak-jejak lain yang dapat diamati dari jauh. Bahan kimia CFC dikenal sebagai penyerap inframerah pada panjang gelombang yang khas, membuat mereka mendeteksi dari atmosfer, bahkan ketika hadir pada konsentrasi hanya bagian per triliun. CFC tidak terbentuk secara alami, sehingga mereka mendeteksi dari planet yang mengorbit bintang lain sebagai bukti kemampuan teknologi.

"CFC adalah ide yang sangat menarik untuk mencari peradaban maju," kata Lisa Kaltenegger dari Harvard University. Namun, teleskop yang sangat sensitif akan diperlukan, bahkan lebih sensitif dari NASA Terrestrial Planet Finder dan Darwin mission milik European Space Agency, teleskop ruang yang paling ambisius yang sekarang sedang direncanakan.

polusi cfc bisa melacak keberadaan alien, benarkah alien itu ada?, misteri alien dan piring terbang dalam sains

Kaltenegger mengatakan mungkin tuntutan "jauh di masa depan dengan perangkat teleskop inframerah ditempatkan di orbit ruang angkasa". Tidak ada jaminan bahwa setiap peradaban asing akan memproduksi polusi CFC ke atmosfir dimana planet yang mereka tinggali. CFC telah merusak lapisan ozon bumi dalam beberapa dekade. "Apakah semua peradaban cerdas seperti alien membuat kesalahan yang sama?"

Misteri alien dan UFO sepertinya masih menjadi topik pembicaraan hangat di dunia karena kemisteriusannya. Sampai saat ini, belum satupun yang bisa membuktikan bahwa benar ada mahluk yang biasa digambarkan dalam film suka menculik manusia dan mahluk buminya dengan tubuh yang aneh, mata yang besar dan senjata yang aneh dan mengendarai piring terbang ini. Tapi yang jelas, benar bahwa Tuhan telah mengatakan dalam firmannya bahwa di alam semesta ini bukan cuma manusia yang hidup tapi juga mahluk mahluk lainnya. Wallahu alam, apakah benar CFC ini mampu melacak keberadaan mereka? Masih jadi misteri.

Selasa, 21 Oktober 2014

Penelitian : Lalat Bisa Sembuhkan Penyakit Manusia

pemanfaatan lalat dalam penyembuhan penyakit manusia dimasa depan, penelitian lalat sebagai media penyembuhan

Pernahkah Anda berpikir metabolisme apa yang dimiliki lalat sampai mereka bisa hidup di tempat jorok dan mengandung banyak penyakit? Pertanyaan inilah yang membuat Seorang peneliti sekaligus ahli serangga dr Jeff Scott dan rekan-rekannya dari Cornell University di New York mencari jawabannya.

Setelah sebelumnya lalat di manfaatkan dalam proses mengurai sampah oleh penelitian Sekelompok peneliti Universitas Alicante, Spanyol yang mengadakan proyek penelitian yang membuktikan larva lalat dapat mengurai tinja hewan dan manusia. Waktu itu, penelitian dipimpin oleh Profesor Santos Rojo dan bekerja sama dengan perusahaan Flysoil SL, mereka bersama-sama mengembangbiakkan lalat Hermetia illucens untuk industri.

Kali ini, Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Genome Biology ini engungkapkan tentang genom lalat yang bermanfaat bagi manusia. Seperti yang dilansir BBC, para peneliti tersebut mengadakan penelitian terhadap genom lalat dengan membandingkan genom lalat rumah (Musca domestica) dengan lalat buah (Drosophila melanogaster). Dan hasilnya, lalat rumah memiliki sistem imunitas yang lebih baik daripada lalat buah, yang menyebabkan mereka kebal dari penyakit meski hidup di tempat kotor dan jorok.

Meski sering menjadi tersangka utama dalam penyebaran penyakit, namun menurut Prof David Conway dari London School of Hygene & Tropical Medicine mengatakan bahwa lalat rumah bisa dijadikan sebagai kunci untuk pengobatan penyakit manusia di masa depan. "Banyak lagi penelitian tentang lalat yang sangat penting untuk manusia. Dengan meneliti penyebab penyakit, maka diharapkan akan ada penelitian lanjutan yang menggunakan hasil penelitian ini untuk membuat obat berdasarkan genom dan antibodi lalat tersebut," ujar Prof Conway.

Sumber: Viva forum dan Vasaka Blog